Senin, 13 Juni 2016

Cerpen Semanis Cornello

Semanis Cornello

Tia, seorang gadis berhijab cantik. Yang tinggal di kota metropolitan, tetapi  kehidupan tia tak terpengaruh oleh dunia hitam di kota metropolitan.
Terdengar suara anak kecil yang menangis, di sudut jembatan besar, sambil memegang beberapa balon, anak kecil ini terbilang tak mempunyai tubuh yang sempurna, tangannya tak ada satu. Seketika tia langsung turun dari sepedanya, tia langsung menghampiri anak kecil tersebut.
“Adek manis, kenapa kamu sendirian pagi-pagi begini? Kemana orang tuamu dek? Dan sedang apa kamu disini? “ Tanya tia sambil mengelus-elus kepala anak kecil tersebut, tia merasa kasian melihat anak kecil itu, apalagi ketika tia melihat kondisi anak kecil itu yang terbilang tak wajar, tak seperti anak kecil pada umumnya.
“ kaka cantik ini siapa? Kaka bukan orang jahat kan? “ jawab anak kecil itu sambil ketakutan, dan merengek masih menaangis tersedu-sedu.
“ tenang adek manis, kakak orang baik, siapa namamu? Dan sedang apa kamu berada disini sendirian?” kata tia sambil membangkitkan anak kecil tersebut dari sudut jembatan.
“ tadi aku sedang bermain balon dengan teman-temanku di asrama, tiba-tiba balonku di terbangkan oleh temanku, dan aku berusaha mengejar balon itu, dan aku tersesat tak bisa pulang kak. Namaku ibnu “ jawab si anak.
“ ibnu tahu jalan menuju asrama? Boleh kakak antar ibnu pulang? “ tanya tia menawarkan tumpangan kepada ibnu.
“ tahu ka, tapi lumayan jauh dari sini, apa kakak tidak kecapean nantinya? “ tanya ibnu ragu
“ tidak adek manis, mana mungkin kakak akan cape mengantarkan anak semanis kamu pulang, nanti ibu asramamu mencari kamu lho” jawab tia seraya menggandeng tangan ibnu menuntun ibnu menuju sepedanya.
Ternyata tia sangat menyukai anak kecil, apalagi melihat ibnu, tia serasa ingat akan adiknya yang sedari kecil sudah meninggal dunia, nasib adiknya hampir sama seperti nasib ibnu, adik tia cacat fisik, sehingga adik tia tak mampu bertahan hidup. Tia sangat kagum, dan simpati dengan keadaan ibnu, walaupun ibnu cacat secara fisik, tapi ibnu tetap bermain layaknya seorang anak normal pada umumnya.
Tiba-tiba di tengah jalan hujan pun mulai turun, sehingga tia meminggirkan sepedanya di sebuah halte bis, takut ibnu kebasahan dan sakit.
“kita berhenti disini dulu ya, takutnya kalau kita lanjutkan perjalanan nanti kamu sakit dek, kakak tak bisa membiarkan kamu sakit” kata tia sambil mengusap rambut ibnu yang basah.
“ iya kakak” jawab ibnu dengan polosnya.
Sambil menunggu hujan reda, tia duduk di halte, sementara ibnu asik bermain balonnya.
“ kakak”
“iya dek, kenpa?”
“ kakak pernah makan es cream? Rasanya itu seperti apa ya kak? “

“ kamu belum pernh makan es cream dek? Rasanya itu lembut di mulut, apalagi kalau rasa coklat itu yummi sekali “ jawab tia sambil membayangkan kalau mereka berdua sedang makan es cream.
“ wah enak sepertinya, makanan terenak yang pernah aku makan hanya gulali kakak, aku bahkan tak pernah bisa membayangkan seenak apa es cream itu” jawab ibnu sambil masih asiknya bermain balonnya itu.
Tia terkejut mendengar jawaban ibnu, hatinya sangat terpukul, anak sekecil ibnu seharusnya masih perlu mendapatkan kasih sayang, kebahagiaan dari kedua orang tuanya. Tetapi sangat berbeda dengan ibnu, bahkan makan es cream saja dia tak pernah.
“ kring.. kring.. es cream es cream..”
Seketika suara abang tukang es cream membuyarkan lamunan tia. tia langsung bergegas menghentikan abang tukang es cream.
“ bang es cream bang..! “ teriak tia.
“ yang apa neng ? “
“ cornellonya ada bang? Yang rasa coklat dua ya” jawab tia sambil menyodorkan uang.
**Setibanya di halte **
“ dek, ini kaka belikan es cream buat kamu” kata tia sambil tersenyum menyodorkan es cream ke ibnu.
“ wah terimakasih kaka, ini kado terindah untukku “ jawab ibnu sambil jingkrang jingkrak kegirangan.
Suasana di halte menjadi mengahangat dengan canda tawa dari ibnu, tia merasa adiknya telah kembali, tia merasa kerinduannya kepada adiknya telh terobati karna ibnu.
Hujan pun mereda, tiba waktunya tia meantarkan ibnu untuk pulang.
“ dek, ayo kaka antarkan kamu pulang”
Di tengah jalan ibnu bercerita tentang kakak laki-lakinya, itu adalah Arda, kakak laki-laki ibnu yang menjadi kluarga satu-satunya yang ibnu punyai. Arda jauh dengan ibnu, arda harus melanjutkan kuliahnya di salah satu unniversitas di jogja. Itu berkat kepandaian arda sehingga arda mendapatkn beasiswa.
“ aku jadi rindu kak arda, katanya kak arda akan main ke asrama dan akan membawakan kado es cream untukku” kata ibnu bercerita kepada tia.
“ siapa kak arda itu dek? “ Tanya tia penasaran.
“ kak arda itu kakaku ka, dia sekarang jauhhh sekali, dia sekolah lagi, lama tak menengok ibnu, ibnu kangen kak arda “ jawab ibnu dengan gelagat anak kecilnya yang masih sangat polos.
Sesampainya di asrama, di halaman asrama kian ramainya karna anak-anak seusia ibnu sedng asyik-asyiknya bermain. Terlihat satu motor yang terparkir di sudut asrama.
“ itu seperti motornya kak arda, apa kak arda ada disini? Ayo kak cepat, aku ingin cepat cepat bertemu dengan kak arda. “ kata ibnu sambil menarik-narik tangan tia.
Ternyata memang ada arda di asrama, seketika  ibnu langsung mengahmpiri kaka tercintanya itu.
“ kakak datang, kaka lama sekali datangnya, ibnu kangen, ibnu ingin makan es cream “ tanya ibnu kepad arda.
“ ibnu, kakakmu dari tadi kesini, tapi kamu di cari-cari tidak ada” jawab ibu asramanya tersebut.
“ iya ini kaka bawakan es creamnya sayang” jawab arda sambil menydorkan es cream ke ibnu”
“ siapa yang mengantarmu ibnu? Kakak cantiknya kok gak di persilahkan masuk? Ay silahkan masuk mba” tanya ibu asrama kepada ibnu, sambil mempersilahkan tia masuk.
“ oh iya lupa, ii kakak cantik yang telah mengantarku pulang ibu, kakak, aku bahkan di belikan es cream tadi “ jawab ibnu.
Suasana terlihat riang di ruang tamu tersebut, akhirnya arda dan tia pun berkenalan.
“ terimakasih ya kamu telah mengantarkan adikku pulang, jarang loh ada perempuan cantik spertimu yang mau perduli dengan anak seperti ibnu “ kata arda kepada tia.
“ ah, tak apa, aku tak merasa keberatan mengantarkan ibnu pulang. Ibnu itu anak yang lucu, lgu, dan dia mengingatkanku kepada adikku yang sudah meninggal dunia.” Jawab tia dengan wajah ang terlihat sedih.
“oh maaf, aku tak tahu. Bukan maksudku membuatmu sedih” jawab arda merasa tak enak hati.
“ iya tidak apa-apa “ jawab tia.
“ oh iya, kenalkan namaku arda, kalau kamu? “ tanya arda memulai perkenalan.
“ iya aku sudah tahu dari ibnu, namaku tia” jawab tia
Dari percakapan tersebutlah awal mula perkenalan tia dan arda dimulai. Arda memliki rasa kagum terhadap tia, dia adalah sosok gadis soleha, baik, periang, dan yang paling arda sukai adalah karna tia sangat suka terhadap anak-anak.
Begitupun tia, dia juga mengagumi arda, arda adalah sosok lelaki bertubuh tinggi, dengan stile yang cool, baik hati, ramah.
Sejak pertemuan itulah tumbuh rasa sayang kepada keduanya, dan tak jarang juga bila arda menemui ibnu, arda juga menemui tia hanya untuk sekedar bertemu melepas rasa rindunya.

Kisah ini bagaikan kisah yang semanis es cream..
Kisah yang lembut, sangat enak untuk di rasakan..
Membuat hari-hari kita lebih berwarna..
Cornello, adalah gambaran kisahku dan kisahnya..
  Nurindah Nulfisari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar